DATABASE SALAFI di INDONESIA

Database Salafi di Indonesia ini merupakan rangkaian dari kegiatan CONVEY Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta. Penelitian ini menyasar 25 kota/kabupaten di 13 provinsi. Wilayah-wilayah tersebut dipilih berdasarkan penelitian sebelumnya yang mengindikasikan bahwa pertumbuhan gerakan Salafi cukup signifikan di area tersebut. Pengambilan data dilakukan selama 2 bulan (15 Agustus s/d 15 Oktober 2017) dengan melibatkan 15 peneliti dan 25 asisten peneliti. Penelitian ini dalam upaya menutupi kekosongan dalam kajian Salafi. Banyak pengamat menilai bahwa gerakan Salafi mengalami perkembangan pesat di Indonesia. Namun, belum ada data tentang seberapa besar petumbuhannya yang meliputi lembaga dakwah, pesantren, radio, majalah, maupun sekolah-sekolah yang berorientasi Salafi di Indonesia. Penelitian ini diharapkan menjadi sumbangsih knowledge yang berbasis pada bukti (evidence-based) dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

prakata
DATABASE
SALAFI di INDONESIA

Dalam 20 tahun terakhir, kita menyaksikan pesatnya perkembangan gerakan Salafi di Indonesia. Gerakan Salafi adalah gerakan yang mengklaim diri sebagai pengikut manhaj Salaf, yakni tiga generasi pertama umat Islam, dengan jargon “kembali kepada al-Qur’an dan hadits” dan menjadikan manhaj Salaf sebagai sumber ketiga setelah al-Qur’an dan hadits. Gerakan ini dibawa oleh alumni dari Saudi Arabia dan Yaman pada akhir tahun 1980-an dengan menyelenggarakan kajian Salafi. Gerakan ini mendapatkan sambutan dari masyarakat luas, dan kini penyokong gerakan ini telah berhasil mendirikan lembaga pendidikan pesantren, madrasah, sekolah di berbagai kota di tanah air. Beberapa pesantren Salafi kini berhasil menerbitkan majalah yang terbit secara berkala dengan oplah yang cukup besar. Bahkan kini, telah berdiri radio dan televisi Salafi.

Beberapa pesantren Salafi menimbulkan kontroversi dan ketegangan di kalangan masyarakat. Bulan Agustus tahun lalu, kita dikejutkan oleh kasus pembakaran umbul-umbul merah putih oleh seorang ustadz di pesantren Ibnu Mas’ud di Bogor, disusul kemudian penolakan sebagian masyarakat Bogor atas pembangunan masjid Imam ibn Hanbal, tempat di mana pengajian Salafi diselenggarakan secara rutin. Reaksi negatif terhadap gerakan Salafi juga muncul di beberapa kota seperti Batam (Bahri, 2017) dan Surakarta (Sunarwoto, 2015).

Meskipun penelitian tentang gerakan Salafi di Indonesia telah dilakukan oleh beberapa ahli seperti Noorhaidi Hasan (2005), Din Wahid (2014), Jajang Jahroni (2015), dan Sunarwoto (2015), namun kajian mereka tidak memberikan data seberapa banyak jumlah pesantren Salafi di Indonesia saat ini. Tahun 2004, ICG mengidentifikasi 29 pesantren Salafi beserta tokoh-Tokohnya yang tersebar di Indonesia. Setelah ICG hingga kini belum ada penelitian yang membangun sebuah database gerakan Islam. Dengan latar belakang di atas, PPIM melakukan penelitian Database Gerakan Salafi di Indonesia. Laporan singkat ini hanya memaparkan temuan penelitian terkait dengan pesantren Salafi.